Davis dalam kertas karyanya membedakan gejala sosial dalam tiga tingkatan, pertama tingkat perilaku individu, kedua, tingkat pola umum yang ditarik dari kebiasaan perilaku individu, ketiga, tingkat ideal yang berisi, rules, prinsip-prinsip perilaku. Kelemahan pendekatan substantif, menurut Davis, yaitu pembahasannya yang lebih diarahkan kepada perilaku pada tingkat ideal, tidak mengherankan jika pada akhirnya mereka berkesimpulan, sistem ekonomi pada masyarakat pasar adalah sistem yang impersonal, berdiri sendiri dan terlepas dari sistem sosial. Berangkat dari kelemahan tersebut Davis mencari jalan keluarnya, yaitu dengan mengubah arah pengamatan dari tingkat ideal gejala sosia ke tingkat perilaku nyata dari individu yang terlibat dalam sistem tersebut.
Prinsip ekonomi personalisme pada dasarnya adalah pemanfaatan faktor-faktor non ekonomi, hubungan sosial untuk kepentingan ekonomi. Ekonomi personal melihat bahwa hubungan antar pedagang di pasar sebenarnya adalah hubungan persaingan. Satu pedagang merupakan saingan bagi pedagang yang lainnya. Namun persaingan tersebut akhirnya melahirkan strategi-strategi tertentu untuk tetap eksis dan bertahan dalam arus persaingan tersebut.
Seperti yang telah dijelaskan di atas salah satu fenomena yang jelas terlihat dalam pasar yaitu hubungan berlangganan. Dengna memiliki langganan seorang pedagang memiliki jalur perdagangan yang pasti. Maksudnya disini distribusi barang jelas dapat dibaca untuk kelangsungan usaha perdagangan. Disini seperti yang di asumsikan oleh pemikir personal, bahwa dalam sebuah pasar yang ada adalah persaingan antar pedagang. Pengikut aliran ekonomi personalisme melihat bahwa dengan adanya pola langganan maka antara pedagang dan pembeli akan mencoba menjalin hubungan tersebut lebih baik untuk dapat saling menguntungkan, dalam artian akan lahir berbagai cara, metode atau sejenisnya dalam sistem perdagangan tersebut, disini pasar merupakan salah satu tempat dimana kemungkinan tersebut lebih banyak dan besar kemungkinan kita temukan.
B. Ekonomi Moral dan Ekonomi Politik
Ekonomi moral dan ekonomi politik pada dasarnya merupakan dua bentuk pengembangan ekonomi substantif dan formalis. Dimana ekonomi moral dari Scott merupakan pengkajian lebih dalam dari ekonomi substantif. Dimana landasan dari pemikiran ini masih menempatkan nilai-nilai sosial merupakan faktor yang berpengaruh dalam sistem perekonomian, moralitas tertentu masih memegang peranan tertentu dalam sistem perekonomian peasant, yang lebih dikenal dengan istilah etika subsistensi. Dalam perekonomian peasant, mereka lebih mengutamakan keselamatan dalam artian kebersamaan, dari pada properti. Scott menuliskan bahwa kaum peasant akan memikirkan ekonominya lebih jauh apabila; pertama, keamanan subsistensinya telah terpenuhi dan mereka benar-benar yakin apa yang akan mereka lakukan (kegiatan perekonomian) tersebut akan mendatangkan hasil seperti yang dibayangkan. Kedua, apabila mereka merasa etika subsistensi mereka mulai terancam oleh sesuatu. Pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan oleh kaum peasant pada dasarnya merupakan respon dari dua hal yang disebutkan di atas (disatu sisi mereka benar-benar yangkin dan disisi lain subsistensi mereka mulai terancam).
Sedangkan ekonomi politik Popkin berlandaskan pada pemikiran ekonomi formalis, ia berkeyakinan bahwa rasionalitas untung rugi merupakan tongkak dari sistem perekonomian dan kondisi ini juga mempengaruhi kaum peasant. Popkin berkeyakinan bahwa ketika kaum peasant melibatkan diri dalam ekonomi pasar, menanamkan tanaman komoditi, atau menjual tenaga ke pasar, hal tersebut terjadi bukan karena mereka merasa etika subsistensi mereka terancam, melainkan karena mereka melihat bahwa pasar lebih memberikan peluang kehidupan yang lebih baik dari kehidupan mereka sebelumnya.
Dimata Scott dan teman-teman sealiran dengannya melihat desa peasant adalah desa yang harmonis, yang memberikan jaminan sosial bagi kelangsungan hidup warganya, yang tampil sebagai benteng yang melindungi warganya dari ancaman hidup di bawah garis subsistensi. Namun menurut Popkin, desa peasant sama sekali jauh dari kondisi harmonis dan penuh dengan eksploitasi. Menurut Popkin desa-desa peasant lebih tepat dipandang sebagai korporasi, bukan sebagai komun; dan hubungan patron klien harus dilihat sebagai eksploitasi bukan sebagai hubungan paternal. lebih jauh mungkin hal ini dapat kita pahami. Kebanyakan kasus di desa peasant, para patron klien terlihat mencoba membentuk sistem budaya tersendiri untuk menjaga agar mereka yang berada di dalam lingkaran patronnya tetap loyal, terikat dan lebih jauh ketergantungan pada dirinya sebagai patron.

0 comments:
Poskan Komentar