MAU NULIS LAGI TAPI BLOM ADA WAKTU
Jumat, 17 Desember 2010
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)
Jangkar itu tlah jatuh ke laut.
Saatnya untuk rehat hilangkan penat.
Ku pandangi peti ikanku, kosong !.
Tak satu pun ikan ku dapat hari ini.
Melangkah resah pulang ke rumah,
hilangkan letih di pangkuan ibu.
_________
“Ingin ku bercerita semua padamu ibu”,
malu slalu halangi niatku.
Bukankah ibu tahu !.
Sejak kecil ku tak pernah mengadu,
tentang ikan di laut itu.
02.00 Dini hari
CULTURE Is Seluruh cara kehidupan dari masyarakat dan tidak hanya mengenai sebagian dari cara hidup itu (Ralp Linton, dalam T.O. Ihromi, Pokok-pokok antropologi budaya, Jakarta, Gramedia, 1980).
CULTURE Is Not a material phenomenon; it does not consist of things, people, behavior, or emotions. culture is nother an organization of these in mind; their models for perceiving, relating, and otherwise interpreting them (Roger. M. Kessing, "Theories of culture" dalam Roland.W. Carson (eds). Language, Culture, and Cognition Antropological Perspectives. New York : Macmillion Publishing Co. In. 1981. hal 42-66).
CULTURE Is Refer to the acguired knowledge that people use to interpret experience and generate sosial behavior (James, Spadley, The Ethnograph Interview, New York, Holt, Rinehart and Winston, 1979).
CULTURE Is Keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang di pergunakan untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi kerangka landasan bagi mewujudkan dan terwujudnya kelakuan ( Parsudi Suparlan, Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan. Perspektif Antropologi Budaya, 1980).
CULTURE Is Sistem nilai, gagasan dan keyakinan yang mendominasi cara pendukungnya melihat, memahami, dan memilah-milah gejala yang dilihatnya dan merencanakan serta menentukan sikap dan perbuatan selanjutnya (Budhisantoso, Pembangunan berwawasan lingkungan, dalam lingkungan : sumber daya alam dan kependudukan dalam pembangunan, jakarta, UI Perss, 1987, hal 232).
CULTURE Is pola-pola makna yang diwariskan secara historis, yang terwujud sebagai simbol-simbol ... yang digunakan manusia untuk berkomunikasi, melestarikan, dan mengembangkan pengetahuan mereka tentang kehidupan dan sikap-sikapnya terhadap kehidupan (Clifford Geertz, Kebudayaan dan agama, Yogyakarta, Kanisius, 1992, hal 3).
CULTURE Is tenunan makna dan dengan tenunan itu manusia menafsirkan pengalaman mereka dan mengarahkan tindakan mereka (Clifford Geertz, Kebudayaan dan agama, Yogyakarta, Kanisius, 1992, hal 74).
CULTURE Is Kompleksitas yang mencakup pengetahuan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan lain-lain berupa kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang di dapat manusia sebagai anggota masyarakat (E.B. Tylor, dalam Soejono Soekanto, Sosiologi suatu Pengantar, Jakarta, Rajawali Perss, 1990).
CULTURE Is Suatu proses yang diperoleh seseorang melalui hubungan dengan orang lain atau melalui benda-benda seperti buku atau karya seni, pengetahuan kemahiran, ide, kepercayaan, rasa dan sentimen (Radcliffe Brown, Structure and Function in Primitive Society, 1954).
CULTURE Is Perilaku berpola yang ada dalam kelompok masyarakat tertentu, dimana anggota-anggotanya memiliki makna yang sama serta simbol yang sama untuk mengkomunikasikan makna tersebut (Collette. Nat.J dan Umar Kayam, Kebudayaan dan Pembangunan : Sebuah pendekatan terhadap antropologi terapan di Indonesia, Jakarta, YOI, 1987, 2).
CULTURE Is Berbagai aspek kehidupan meliputi cara-cara berlaku, kepercayaan-kepercayaan, sikap-sikap, dan juga hasil dari kegiatan manusia yang khas untuk suatu masyarakat atau kelompok penduduk tertentu (Ember&Ember, dalam T.O. Ihromi, Pokok-pokok antropologi budaya, Jakarta, Gramedia, 1980).
CULTURE Is Pola-pola dari dan bagian tingkah laku yang jelas atau tidak jelas, yang diperoleh atau disampaikan melalui simbol-simbol yang merupakan hasil karya masyarakat manusia termasuk perwujudannya dalam bentuk benda-benda (Kroeber dan Kluckholn, dalam Armin Arief, Antologi Antropologi Kesehatan, Padang, IKIP Perss, 1994).
CULTURE Is Kumpulan hasil-hasil pertumbuhan jiwa suatu bangsa yang sadar akan golongannya dalam menghadapi golongan lain dan alam fisis di sekelilingnya (Ardjo, Antropologi Indonesia, Pradnyaparamita, Jakarta, 1973, 18).
1. Manusia sebagai mahkluk sosial dan memiliki kodrat sosial, bahwa sebenarnya manusia tak dapat hidup tanpa orang lain dan lingkungannya dan manusia hanya dapat menemukan jati dirinya dari pengakuan-pengakuan orang lain atau dalam korelasinya dengan orang lain dan lingkungannya (Rudi Gunawan, Mendobrak tabu, Yogyakarta, Galang Perss, 2000, 106).
2. Manusia adalah makhluk sosial yang terdiri dari unsur sosial, individual, animal rational, human culture, zoon politicon, homo symbolicum, homo economicus, yang kesemuanya itu membentuk manusia untuk dapat berhubungan dengan aturan-aturan yang ada dalam masyarakatnya (Rudi Gunawan, Mendobrak Tabu, Yogyakarta, Galang Perss, 2000, 154).
3. Kekuatan khas dari simbol-simbol itu berasal dari kemampuan mereka yang di kira ada untuk mengidentifikasikan fakta dengan nilai-nilai pada taraf yang paling fundamental, untuk memberikan pada esuatu yang bagai manapun juga bersifat faktual murni, suatu muatan normatif yang komprehensif (Clifford Geertz, Kebudayaan dan Agama, Yogyakarta, Kanisius, 1992, 51).
4. Akan tetapi makna hanya dapat disimpan di dalam simbol, misalnya sebuah salib, sebuah bulan sabit, atau seekor ulat berbulu. Simbol-simbol religius semacam itu, yang dipentaskan dalam ritus-ritus atau yang dikaitkan delam mitos-mitos, entah dirasakan, bagi mereka yang tergetar oleh simbol tersebut, yang jelas itu meringkas apa yang diketahui tentang dunia apa adanya, meringkas kualitas kehidupan emosional yang di topangnya, dan cara seseorang bertindak di dalamnya (Clifford Geertz, Kebudayaan dan agama, Yogyakarta, Kanisius, 1992, 50).
5. - Segi-segi moral dan estetis dari suatu kebudayaan tertentu, unsur-unsur evaluatif, pada umumnya diringkas dalam istilah etos. Etos adalah sikap-sikap mendasar terhadap diri manusia sendiri dan terhadap dunia mereka yang di refleksikan dalam kehidupan.
- Segi-segi kognitif, eksistensialnya dilukiskan dalam istilah pandangan dunia. Pandangan dunia adalah gambaran mereka tentang kenyataan apa adanya, konsep mereka tentang alam, diri, dan masyarakatnya. pandangan dunia mengandung gagasan-gagasan mereka yang paling komprehensif mengenai tatanan (Clifford Geertz, Kebudayaan dan Agama, Yogyakarta, Kanisius, 1992, 51).
6. Apa saja yang hidup memiliki rasa dan apa saja yang memiliki rasa itu hidup, dalam artian : Apa saja yang hidup itu merasakan dan apasaja yang merasakan itu hidup X Apa saja yang hidup itu memiliki makna dan apa saja yang memiliki makna itu hidup (Clifford Geertz, Kebudayaan dan Agama, Yogyakarta, Kanisius, 1992, 61).
7. Rasa memiliki 2 artian pokok :
1. Sebagai perasaan > Contoh Salah satu dari panca indra kita, dalam diri kita terdapat 3 bagian, sehingga mengakibatkan pandangan kita terhadap panca indra terpisah-pisah : pencecap cita rasa pada lidah, sentuhan pada badan dan perasaan emosional di dalam hati, seperti kesedihan dan kebahagiaan.
2. Sebagai makna > Diterapkan dalam kata-kata di dalam sebuah seni untuk menjelaskan sesuatu secara tidak langsung, juga dalam tindakan atau tingkah laku, segabai makna ia merupakan perasaan (makna) terdalam yang di capai dengan upaya mistis yang kejelasannya menjernihkan segala ambiguitas dari kehidupan duniawi (Clifford Geertz, Kebudayaan dan Agama, Yogyakarta, Kanisius, 1992, 61).
8. Kalau simbol-simbol - meminjam sebuah frase dari Kenneth Burke -, adalah strategi untuk merangkum situasi-situasi, lantas kita perlu memberi lebih banyak perhatian pada bagaimana orang mendefenisikan situasi-situasi dan bagaimana mereka merumuskannya. tekanan seperti itu tidak menyiratkan pencabutan kepercayaan dan nilai-nilai dari konteks psikologis dan konteks sosialnya dan merumusknnya ke dalam dunia "makna murni", melainkan menyiratkan suatu tekanan yang lebih penting besar pada analisis, atas kepercayaan-kepercayaan dan nilai-nilai seperti itu menurut konsep-konsep yang di rancang secara eksplisit untuk memperlakukan bahan simbolis (Clifford Geertz, Kebudayaan dan Agama, Yogyakarta, Kanisius, 1992, 69).
9. Peranan dari ilmu pengetahuan spesial seperti antropologi dalam analisis tentang nilai-nilai, tidaklah menggantikan penyelidikan filosofis, melainkan untuk membuatnya relevan.
10. Salah satu cara untuk membedakan antara sistem sosial dan sistem kebudayaan adalah :
- Dengan melihat sistem kebudayaan sebagai sebuah sistem makna dan sistem simbol yang teratur, yang di dalamnya interaksi sosial berlangsung.
- Dengan melihat sistem sosial sebagai pola interaksi itu sendiri. (Clifford Geertz, Kebudayaan dan Agama, Yogyakarta, Kanisius, 1992, 73-74).
11. Makna belajar → Mengubah pengetahuan dan pengalaman menjadi kearifan, kesabaran dan kasih sayang untuk menjadi dewasa, yang pada saatnya di harapkan dapat melengkapi kehidupan bangsa pemetik itu menjadi mandiri, agar tidak hidup dalam ketergantungan oleh sumbangan dan belas kasihan belaka (Ani Sekarningsih, Teweraut, YOI, Jakarta, 2000, 294).
12. Sarjana antropologi pertama yang menyandang gelar sarjana antropologi sosial adalah Sir James Fraze di Liverpool tahun 1980.
13. Tugas Etnologi → Mengelompokkan manusia berdasarkan ciri-ciri ras dan kebudayaan mereka dan kemudian mengurai tentang penyebarannya pada masa kini atau masa lalu melaui pergerakan dan pencampuran manusia serta difusi kebudayaan (E.E.Evans Pricthard, Antropologi Sosial, Bumi Aksara, 1986, 12).
14. Tugas Antropologi Sosial → Mengkaji tingkah laku sosial umumnya dalam bentuk yang telah dilembagakan, seperti persaudaraan, sistem kekeluargaan, organisasi politik, tata cara UU, keagamaan dan lain-lain, serta mengenai hubungan antara semua lembaga tersebut (E.E.Evans Pricthard, Antropologi Sosial, Bumi Aksara, 1986, 12).
15. Perbedaan Antropologi Sosial dengan Sosiologi
*Antropologi Sosial
- Mengkaji masyarakat primitif secara langsung menyatu di dalam masyarakat tersebut untuk beberapa bulan atau tahun
- Mengkaji masyarakat secara keseluruhan, sebagai pemecahan permasalahan dari sistem sosial yang umum.
- Ahli antropologi sosial tidak memberikan pertimbangan terhadap fenomena yang terjadi dalam pengkajiannya.
* Sosiologi
- Penelitian sosiologi biasanya bersumber dari dokumen-dokumen yang sebagian besar tergantung pada data-data dugaan.
- Khusus mengkaji masalah-masalah yang berbeda ; perceraian, kriminalitas, gangguan mental, perburuhan, dan insentif dalam perindustrian.
- sebagian besar melibatkan falsafah sosial di satu pihak dan perencanaan sosial di lain pihak, dan bertujuan memberikan kesan tentang bagaimana institusi-institusi di gerakkan dan di robah.
16. Hukum dasar totemisme → 1. Jangan membunuh binatang totem, 2. Hindari hubungan badan dengan lawan jenis dari kelompok totem yang lain (Sigmund Freud, Totem dan Tabu, Jendela, Yogyakarta, 2001, 53).
17. Delire de toucher → Menyentuh adalah permulaan dari semua tindakan ingin memiliki, dari semua usaha untuk memanfatkan manusia lain atau benda (Sigmund Freud, Totem dan Tabu, Jendela, Yogyakarta, 2001, 56).
18. Dalam sistem simbol terdapat sistem reseptor dan sistem efektor yang dimiliki oleh binatang pada umumnya (Ernst Cassier, dalam F.W.Dillistone, The Power Of Symbols, Yogyakarta, kanisius, 2002, 120).
19. Simbol dapat digunakan untuk menyatakan objek, tindakan, peristiwa, kualitas, atau relasi yang berlaku sebagai sebuah wahana untuk sebuah konsep (Clifford Geertz)
20. Walau sebuah benda, tindakan, peristiwa, kualitas, atau relasi itu termasuk atau menjadi bagian dari sebuah kultural, sosial, atau psikologis. Namun ia belum tentu dapat di katakan sebuah simbol. Ia akan dapat dikatakan sebagai sebuah simbol apabila ia mengacu pada sesuatu di luar batas-batas organisme individual, dalam artian terdapat dalam dunia intersubjektif atau dunia lain di laur dunia manusia apa adanya (Clifford Geertz).
21. Etnosentrisme → Melihat fenomena dengan kacamata budaya sendiri.
22. Ekologi → 1. Ilmu yang mempelajari tentang rumah atau tempat tinggal (lingkungan). 2. Ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
23. Antropologi Ekologi → Ilmu yang mencoba memahami interaksi, proses, keterkaitan antara manusia dan lingkungan hidup di sekitarnya.
24. Komunitas → Semua populasi dan berbagai jenis yang menempati suatu daerah tertentu, dimana antar populasi berinteraksi antara satu dengan yang lainnya.
25. Ekositem → Tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh atas segenap lingkungan unsur yang saling mempengaruhi di dalam sebuah populasi.
26. Homeostatis → Pencapaian keseimbangan dalam ekosistem.
27. Manusia hidup di tengah objek, kata "objek" dimengerti dalam arti luas dan meliputi semua yang menjadi sasaran perhatian ktif manusia. Menurut Blumer, objek dapat bersifat fisik seperti kursi atau khayalan, kebendaan seperti Empire State Building atau abstrak seperti konsep kebebasan, hidup atau tidak hidup, terdiri dari golongan atau terbatas pada satu orang, bersifat pasti seperti golongan darah atau agak kabur seperti suatu ajaran filsafat (K.J.Veeger, Realitas Sosial, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1985).
28. Antropologi mempelajari manusia dan segala tingkah lakunya (Ralp Linton, 1936).
29. Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia sebagai makhluk masyarakat (Ruth Benedict, 1960).
30. Antropologi adalah Ilmu sosial yang amempelajari pemikiran manusia dn kebudayaannya (Bambang Rudito, Peran antropologi sebagai bagian dalam ilmu sosial, Jurnal Antropologi I/1-1998, 1).
0 comments:
Poskan Komentar